PERKEMBANGAN
PEMBELAJARAN TIK DI SEKOLAH DASAR
MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi
Oleh:
Jaihan Safitri (H.1610023)
PROGRAM STUDI PGSD
FAKULTAS PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
KATA PENGANTAR
Segenap
puji syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas segala limpahan rahmatNya,
dan dengan pertolonganNya jualah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar ”.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada dosen pengampu Mata Kuliah TIK yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada kami sehingga makalah ini
dapat kami selesaikan dengan baik.
Terima
kasih pula saya sampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan mahasiswa Program
Pasca Sarjana Universitas Djuanda program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang
telah membantu kami dengan memberikan dukungan yang sangat bermanfaat bagi kami
dalam pembuatan makalah ini.
Selaku
manusia biasa kami sangat menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan
dan oleh karenanya maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan makalah ini sehingga dapat
mendekati kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik ALLAH SWT pemilik
alam semesta.
Demikianlah
makalah ini kami buat, tentunya dalam penulisan makalah ini terdapat hal-hal
yang tidak pantas dan kurang berkenan bagi bapak dan ibu sekalian, maka untuk
itu kami menghaturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.
Bogor,
19 November 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1
disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam tujuan yang
ingin dicapai terlihat bahwa pendidikan merupakan pengembangan potensi siswa
sesuai dengan kondisi yang ada seperti kultur masyarakat, ketersediaan sumber
daya dan dukungan dari masyarakat, dan pemerintah.
Pendidikan
dasar menurut pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa Setiap warga negara yang
berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa usia 7 tahun sampai 15 tahun
merupakan usia anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah (SMP). Sesuai
dengan amanat Undang-undang bahwa pendidikan dasar di Indonesia terdiri dari
dua jenjang yaitu SD dan SMP, semua anak usia 7 s/d 15 tahun wajib untuk
mendapatkan pendidikan dasar. Jadi pendidikan dasar merupakan hak sekaligus
kewajiban bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali.
Pemerintah
mempunyai kewajiban untuk menyediakan tenaga pengajar dan sarana infrastruktur
untuk mencapai wajib belajar 9 tahun. Sesuai dengan pasal 11 ayat 1 dan 2 di
jelaskan (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan
dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi
setiap warga negara tanpa diskriminasi. (2) Pemerintah dan pemerintah
daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi
setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Sebagai
salah satu negara berpopulasi penduduk yang tinggi, tentunya negara Indonesia
memiliki tantangan yang nyaris sama dengan negara China dan India. Problem
kesehatan dan pendidikan selalu dijadikan parameter untuk mengukur
kesejahteraan rakyat di suatu negara.
Indonesia
dengan populasi penduduknya yang besar, terdiri dari antara lain tenaga
kependidikan dan siswa yang tersebar di seluruh wilayah negara Indonesia,
tentunya juga memiliki tantangan khusus di bidang pendidikan. Beberapa tantangan
tersebut diantaranya adalah masih banyaknya anak usia sekolah yang belum dapat
menikmati pendidikan dasar 9 tahun. Tantangan lainnya adalah (1) tidak
meratanya penyebaran sarana dan prasarana pendidikan, sebagai contohnya tidak
semua sekolah memiliki saluran telepon, apalagi terkoneksi internet. (2) Tidak
seragamnya dan masih rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang sekolah yang
ditandai dengan tingkat kelulusan UN yang masih rendah, demikian pula masih
rendahnya nilai UN yang diperoleh siswa. (3) Rendahnya kualitas kompetensi
tenaga pengajar, dimana dari jumlah guru yang ada 2.692.217, ternyata yang
memenuhi persyaratan (tersertifikasi) hanya 727.381 orang atau baru 27% dari
total jumlah guru di Indonesia. (4) Rendahnya tingkat pemanfaatan Teknologi Informasi
dan komunikasi (TIK) di sekolah yang telah memiliki fasilitas TIK, sedangkan
disisi lain, tidak semua sekolah mempunyai sarana TIK yang memadai.
Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) bukan hanya komputer dan internetnya, tetapi TIK
juga meliputi media informasi seperti radio dan televisi serta media komunikasi
seperti telepon maupun telepon seluler dengan SMS, MMS, Music Player, Video
Player, Kamera Foto Digital, dan Kamera Video Digital-nya serta e-Book
Reader-nya. Sehingga banyak media alternatif yang dapat dipilih oleh pengajar
untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan. TIK yang
dimanfaatkan dengan baik dan tepat di dalam pendidikan akan memperluas
kesempatan belajar, meningkatkan efisiensi, meningkatkan kualitas belajar,
meningkatkan kualitas mengajar, memfasilitasi pembentukan keterampilan,
mendorong belajar sepanjang hayat dan berkelanjutan, meningkatkan perencanaan
kebijakan dan manajemen, serta mengurangi kesenjangan digital.
Dalam
dunia pendidikan, TIK sudah diperkenalkan dalam pendidikan formal mulai dari
jenjang Sekolah Dasar (SD), meskipun dalam pelaksanaannya tidak semua Sekolah
Dasar yang memasukkan pendidikan TIK dalam kurikulumnya. Oleh karena itu maka
penulis berkeinginan untuk menganalisis apa dan bagaimana proses
pembelajaran TIK yang dilaksanakan di Sekolah Dasar.
1.2. Pemanfaatan TIK
Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK), berdasarkan manfaatnya dalam pendidikan dapat
dikategorisasikan menjadi 4 (empat) kelompok manfaat. Pertama, TIK
sebagai gudang ilmu pengetahuan, di kelompok ini TIK dimanfaatkan sebagai
sebagai referensi ilmu pengetahuan terkini, manajemen pengetahuan, jaringan
pakar beragam bidang ilmu, jaringan antar institusi pendidikan, pusat
pengembangan materi ajar, wahana pengembangan kurikulum, dan komunitas
perbandingan standar kompetensi. Kedua, TIK sebagai alat bantu
pembelajaran, di dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada 3 fungsi TIK yang
dapat dimanfaatkan sehari-hari di dalam proses belajar- mengajar, yaitu :
(1) TIK sebagai alat bantu guru yang
meliputi: animasi peristiwa, alat uji siswa, sumber referensi ajar, evaluasi
kinerja siswa, simulasi kasus, alat peraga visual, dan media komunikasi antar
guru. Kemudian,
(2) TIK sebagai alat bantu interaksi
guru-siswa yang meliputi: komunikasi guru-siswa, kolaborasi kelompok studi, dan
manajemen kelas terpadu. Sedangkan
(3) TIK sebagai alat bantu siswa meliputi:
buku interaktif, belajar mandiri, latihan soal, media ilustrasi, simulasi
pelajaran, alat karya siswa, dan media komunikasi antar siswa. Ketiga, TIK
sebagai fasilitas pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK dapat dimanfaatkan
sebagai: perpustakaan elektronik, kelas virtual, aplikasi multimedia, kelas
teater multimedia, kelas jarak jauh, papan elektronik sekolah, alat ajar multi-intelejensia,
pojok internet, dan komunikasi kolaborasi kooperasi (intranet sekolah).
Keempat, TIK sebagai infrastruktur pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK
mendukung teknis dan aplikatif untuk pembelajaran, baik dalam skala menengah
maupun luas yang meliputi: ragam teknologi kanal distribusi, ragam aplikasi dan
perangkat lunak, bahasa pemrograman, sistem basis data, komputer personal,
alat-alat digiital, sistem operasi, sistem jaringan dan komunikasi data, dan
infrastruktur teknologi informasi (media transmisi).
Optimalisasi
pemanfaatan TIK untuk pembelajaran tersebut menumbuhkan harapan bahwa hal ini
akan memberi sumbangan besar dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM) di Indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui pembangunan masyarakat berpengetahuan
(knowledge-based society). Masyarakat yang tangguh karena memiliki
kecakapan: (1) ICT and media literacy skills, (2) critical
thinking skills, (3) problem-solving skills, (4) effective
communication skills, dan (5) collaborative skills yang diperlukan
untuk mengatasi setiap permasalahan dan tantangan hidupnya.
1.3. Permasalahan
Adapun permasalahan yang akan
penulis kemukakan untuk dibahas pada makalah ini, yaitu:
- Apakah TIK perlu dipelajari di tingkat Sekolah Dasar?
- Bagaimana kurikulum TIK di tingkat Sekolah Dasar?
- Bagaimana implementasi pembelajaran TIK di tingkat Sekolah Dasar?
1.4. Tujuan
Sedangkan tujuan dari penulisan
makalah ini, dapat penulis kemukakan sebagai berikut:
- Untuk mengetahui pentingnya pembelajaran TIK di Sekolah Dasar.
- Untuk mengetahui bagaimana kurikulum pembelajaran TIK di Sekolah Dasar.
- Untuk mengetahui bagaimana implementasi pembelajaran TIK di Sekolah Dasar.
1.5. Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil
dari penulisan makalah ini, yaitu:
- Menambah khazanah wawasan bagi pemakalah dalam hal pelaksanaan pembelajaran TIK di Sekolah Dasar.
- Menambah hasil karya ilmiah bagi program studi Teknologi Pendidikan program Pascasarjana Universitas Sriwijaya.
- Menjadi Sumbang saran serta bahan perbaikan bagi pembelajaran TIK di Sekolah Dasar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pembelajaran TIK di Sekolah Dasar
Proses
pembelajaran memerlukan adanya subjek dan objek yang berperan secara aktif,
dinamik dan interaktif di dalam ruang belajar, baik di dalam kelas maupun di
luar kelas. Guru dan siswa sama-sama dituntut untuk membuat suasana belajar dan
proses transfer ilmu pengetahuan berjalan menyenangkan serta tidak membosankan.
Oleh karena itu penataan peran guru dan siswa di dalam kelas yang
mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran sangat perlu untuk dipahami dan
dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Era
pendidikan berbasis TIK telah berlangsung saat ini, peran guru tidak hanya
sebagai pengajar semata namun sekaligus menjadi fasilitator, kolaborator,
mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi siswanya. Oleh karena itu,
guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk
mengalami peristiwa belajar. Peran guru sebagaimana dimaksudkan tersebut
menjadikan peran siswapun mengalami perubahan, dari partisipan pasif menjadi
partisipan aktif yang harus banyak menghasilkan dan berbagi (sharing)
pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana
layaknya seorang ahli. Disisi lain siswa juga dapat belajar secara individu,
sebagaimana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain
Untuk
mendukung proses integrasi TIK di dalam pembelajaran, maka manajemen sekolah,
guru dan siswa harus memahami sembilan prinsip integrasi TIK dalam pembelajaran
yang terdiri atas prinsip-prinsip:
- Aktif: memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
- Konstruktif: memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keingintahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
- Kolaboratif: memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
- Antusiastik: memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
- Dialogis: memungkinkan proses belajar secara inheren yang merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
- Kontekstual: memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
- Reflektif: memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.
- Multisensory: memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik.
- High order thinking skills training: memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT and media literacy”
Pembelajaran
TIK yang perencanaan pembelajarannya tertuang dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), yang telah disusun dan implementasinya yang akan
dilaksanakan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah. RPP yang
mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran dapat disusun melalui 2 (dua)
pendekatan, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis. Pertama, Pendekatan
idealis dapat dimulai dengan menentukan topik, kemudian menentukan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai; dan menentukan aktifitas pembelajaran dengan
memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan
belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous
lainnya), yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Kedua,
pendekatan pragmatis yang dapat diawali dengan mengidentifikasi TIK (seperti
buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di
internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous
lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan, kemudian memilih
topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK tersebut, dan diakhiri
dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mencapai
kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik pelajaran
tersebut.
Adapun
strategi yang dapat dipilih sesuai dengan kedua pendekatan tersebut adalah
strategi: Resources-based learning (pembelajaran berbasis sumber daya), Case/problem-based
learning (pembelajaran berbasis permasalahan/kasus sehari-hari), Simulation-based
learning (pembelajaran berbasis simulasi), dan Colaborative-based
learning (pembelajaran berbasis kolaborasi). Jejaring Pendidikan Nasional
(Jardiknas) dan televisi edukasi (TVE), yang memiliki peran sangat besar dalam
upaya menghadapi tantangan besar bagi negara kita dalam mencerdaskan bangsa
melalui akses setiap masyarakat Indonesia ke sumber-sumber pengetahuan dan
informasi pendidikan.
Depdiknas
selalu berupaya menjawab tantangan tersebut dengan inisiatif yang penuh inovasi
melalui penyelenggaraan siaran TVE yang diresmikan pada tahun 2004 ini
merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program
pembelajaran. Kemudian pada tahun 2006, Depdiknas menggelar Jardiknas
yang merupakan jaringan TIK nasional terbesar yang dimanfaatkan oleh Depdiknas
untuk keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta
informasi dan kebijakan pendidikan. TVE yang kini telah memiliki saluran 2
untuk guru yang memiliki pola siaran: Informasi yang berisikan materi:
News, Pola siaran yang berisikan Kebijakan, Profil Guru, dan sebagainya;
Tutorial (Pendidikan Formal) yang berisikan materi: pembelajaran berdasarkan
kurikulum Program SD, SMP, SMA, SMK, PJJ S-1 PGSD konsorsium dan Program S1
PGSD Non Konsorsium; dan Pengayaan yang berisikan materi: pengkayaan dan materi
yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru. Sedangkan Jardiknas saat ini
memiliki 1.072 node (simpul) Zona Kantor dan Perguruan Tinggi yang tersebar di
33 provinsi dan 456 kabupaten/kota. Jardiknas yang berpusat di NOC Pustekkom
Ciputat Banten dan NOC Telkom Karet Jakarta ini difasilitasi bandwidth
intranet, internet domestik dan internet internasional yang cukup memadai untuk
mendukung e-administrasi dan e-pembelajaran di Indonesia.
Dalam
waktu dekat – dalam rangka memenuhi Inpres nomor 5 tahun 2008 – Depdiknas akan
mengembangkan Jardiknas Zona Sekolah untuk 15.000 sekolah dan Jardiknas Zona
Perorangan untuk 7.943 tenaga pengajar yang memiliki laptop. Media koneksi
Jardiknas Zona Sekolah berorientasi static internet (fixed), sedangkan
Jardiknas Zona Perorangan berorientasi kepada mobile internet. Konten Kita
memahami bahwa infrastruktur semegah apapun tidak akan berarti sama sekali jika
tiada konten bermanfaat di dalamnya. Setiap hari pengguna internet berselancar
di dunia maya hanya untuk mencari konten yang benar-benar diinginkannya secara
instan. Baik didorong oleh rasa keingintahuan terhadap suatu fenomena maupun
sekedar membuktikan sebuah informasi. Demikian halnya konten pendidikan yang
disajikan melalui TVE maupun disediakan melalui Jardiknas.
Beberapa
konten e-learning yang selama ini cukup mendukung pembelajaran berbasis TIK
adalah: Bimbingan Belajar Online, Bank Soal Online, Uji Kompetensi Online,
Smart School, Telekolaborasi, Digital Library, Research Network, dan Video
Conference PJJ. Salah satu konten yang cukup menyita perhatian publik
akhir-akhir ini adalah program buku murah yang dikemas di dalam aplikasi Buku
Sekolah Elektronik (BS) yang dapat diakses melalui: bse.depdiknas.go.id. BSE
merupakan langkah reformasi di bidang perbukuan dimana Depdiknas telah membeli
Hak Cipta buku-buku teks pelajaran SD, SMP, SMA, dan SMK tersebut. Softcopy
buku-buku teks pelajaran tersebut didistribusikan melalui web BSE agar guru
atau masyarakat dapat mengakses, mengunduh, mencetak, mendistribusikan, atau
menjualnya sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) dimana saja dan kapan saja.
Selain BSE versi Online yang dapat diakses melalui internet, Depdiknas juga
telah menyediakan dan mendistribusikan BSE versi Offline yang dikemas di dalam
cakram padat DVD. Demikian strategi pengembangan pembelajaran berbasis TIK yang
terus-menerus dikembangkan dan didukung oleh Depdiknas melalui sejumlah
inisiatif dan inovasi di bidang teknologi pembelajaran, teknologi informasi dan
teknologi komunikasi. Kita dapat berharap suatu saat nanti TVE dan Jardiknas
dapat menjadi Pusat Konten Pembelajaran yang dapat diakses dimana saja dan
kapan saja melalui koneksi Kabel, Nirkabel dan Satelit.Sumber: Kwarta
Adimphrana (Pembelajaran TIK).
2.2. Standar Isi TIK SD
Berdasarkan
Standar Isi (Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan). Kerangka Dasar
Kurikulum untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat
SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku
ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri. Alokasi waktu satu jam pembelajaran
adalah 35 menit. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester)
adalah 34-38 minggu. Jumlah jam pembelajaran tatap muka per mingggu untuk
SD/MI/SDLB: Kelas I-III adalah 29 sampai dengan 32 jam pembelajaran. Kelas IV-V
adalah 34 jam pembelajaran. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan
mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SD/MI/SDLB maksimum 40% dari
jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
2.3. Implementasi TIK pada Pendidikan Dasar
Setelah
analisis dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana implementasi TIK yang
sesungguhnya. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh penulis dilapangan,bahwa pada
dasarnya pembelajaran TIK di tingkat Sekolah Dasar sangat di perlukan, dalam
hal ini kami mengadakan penelitian di 3 (tiga) sekolah, yaitu: Sekolah Dasar
Negeri 114, Sekolah Dasar Negeri 117, dan Sekolah Dasar Negeri 179. Ketiga
sekolah tersebut sesuai dengan kriteria sekolah yang menurut kami memenuhi tiga
kriteria tingkatan, yaitu: tingkat kurang, tingkat sedang dan tingkat baik.
Adapun
kriteria sekolah yang telah melakukan pembelajaran TIK di Sekolah Dasar, yaitu
sebagai berikut:
- Pembelajaran TIK dengan kriteria tingkat kurang.
Berdasarkan
hasil analisa kami, bahwa Sekolah Dasar Negeri 114 masuk dalam kategori tingkat
kurang, mengapa kami katakan demikian? Sebelum kami mengatakan alasannya, ada
baiknya kita menjelaskan terlebih dahulu pembelajaran TIK di sekolah ini.
Sekolah Dasar Negeri 114 di kenal dengan nama sekolah yang menerapkan
Pengenalan Teknologi Dasar (PTD). Sekolah ini pembelajaran TIK masih tergolong
kurang, karena mereka memberikan pelajaran TIK secara umum, di sekolah ini
mereka memberikan pelajaran teknologi dalam bidang; membatik, transportasi,
komunikasi dan berkebun. Sedangkan pembelajaran TIK itu sendiri hanya sebatas
pengenalan alat-alatnya saja, seperti; monitor, keyboard, CPU, mouse, dan
lainnya, dan tidak dipelajari lebih mendalam. Untuk nilai PTD sendiri di
masukkan ke dalam nilai raport sebagai nilai muatan lokal. Adapun modul yang
digunakan adalah modul yang mengarah ke teknologi dasar secara umum. Maka,
dapat kami simpulkan bahwa pembelajaran TIK di sekolah ini masih kurang.
2.
Pembelajaran TIK dengan kriteria
tingkat sedang
Adapun
kategori yang kedua adalah kriteria tingkat sedang, dalam hal ini kami
menganalisa Sekolah Dasar Negeri 117, pada sekolah ini pelaksanaan pembelajaran
TIK dalam bentuk muatan lokal yang diasuh oleh satu orang tenaga pengajar
berijazah D.III UMUM. Sarana yang tersedia hanya 1 buah unit komputer,
pelaksanaan pembelajaran berlangsung di ruangan perpustakaan karena di
laksanakan dengan cara bergiliran sementara siswa lain membaca buku di
perpustakaan. Di sekolah ini pembelajaran TIK dilaksanakan dengan meggunakan
modul yang dilaksanakan dalam bentuk pengenalan komputer saja.
Di Sekolah
ini lebih mengutamakan program kelas Akselerasi dan Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia (PMRI), kelas akselerasi dimulai dari kelas empat, adapun
syarat untuk dapat masuk kelas tersebut siswa harus masuk peringkat lima besar
pada waktu di kelas tiga, dan perlu diketahui bahwa sekolah ini dijadikan
sekolah percontohan PMRI di bawah bimbingan langsung Bapak Prof.
Zulkardi, M.I.Kom., M.Sc. Menurut keterangan kepala sekolah Bapak Drs. Bahrun,
disekolah ini TIK akan dikembangkan, tetapi masih terkendala masalah sarana
komputer dan prasarana gedung yang belum tersedia. Oleh karena itu
pembelajaran TIK disekolah ini belum dapat dilaksanakan secara maksimal,
walaupun demikian nilai TIK masih masuk dalam nilai raport pada mata pelajaran
muatan lokal (MULOK).
3.
Pembelajaran TIK dengan kriteria
tingkat baik
Sekolah
yang masuk dalam kategori baik dalam hal pembelajaran TIK adalah Sekolah Dasar
Negeri 179. Sekolah ini adalah sekolah yang berstandar Internasional (SBI) di
bawah kepemimpinan Ibu Dra. Yuliani. Jumlah siswa disekolah ini yaitu 638
orang, yang tersebar di 23 kelas mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI,
setiap tingkatan kelas memiliki empat kelas, kecuali kelas 3 yang hanya
memiliki 3 kelas. Pada sekolah ini pembelajaran TIK telah di laksanakan mulai
dari kelas 1 s/d kelas 6 dengan lama waktu pembelajaran 2 jam perminggu,1 jam
sama 35 menit setiap siswa di haruskan membayar Rp.15.000,00 per-bulan untuk
biaya operasional .
Sarana
komputer yang tersedia terdiri dari 22 unit,1 server untuk jardiknas dan 1
server lagi untuk jaringan internet internasional 5 unit untk pelatihan guru
,yang patut di banggakan pada sekolah ini adalah komputer yang telah ada
meupakan swadaya dari orang tua siswa yang telah di rintis oleh pihak
sekolah,komite serta peran orang tua siswa selama lebih kurang 2 tahun
sumbangan dari pihak diknas baik kota maupun propinsi, sedangkan tenaga
pengajar berjumlah 4 orang yaitu; Purwanto sebagai koordinator sekaligus
pengajar,di bantu oleh 3 orang,yaitu: Ibu Jenny Cristina,Amd,Ibu Halmahera dan
Bapak Arief fadillah, S.Kom.
NO
|
NAMA
|
PENDIDIKAN
|
STATUS
|
DIKLAT/PELATIHAN
|
KET
|
1.
|
Purwanto
|
D.II
Pend. Penjaskes
|
PNS
|
Bandung
dan
Bali
|
Pengajar sekaligus Tehnisi
komputer
|
2.
|
Jenny Cristina, A.Md.
|
D.III.
Komp. Akuntansi
|
PTT
|
Pengajar
|
|
3.
|
Halmahera
|
SMA
|
PTT
|
Pengajar
|
|
4.
|
Arief Fadillah, S.Kom
|
S.1.
Sarjana Komputer
|
PTT
|
Pengajar
|
Berdasarkan
keterangan dari tim pengajar tersebut, bahwa pembelajaran TIK sangat
diperlukan, karena dapat menunjang efisiensi dan efektifitas proses
pembelajaran bidang studi yang lain, seperti; matematika, Bahasa Inggris,
Biologi, sejarah, geografi dan banyak lagi. Di sekolah ini setiap guru bidang
studi mendapatkan kesempatan belajar TIK itu sendiri yang dilaksanakan di sore
hari, sehingga setiap guru dapat memanfaatkan komputer, khususnya mengakses
internet untuk mendownload materi pelajaran dari bidang studi yang diajarkan.
Materi ini dapat disampaikan oleh guru kepada siswa di dalam kelas dikarenakan
tersedianya juga sarana sebuah LCD dan dua buah laptop.
4.
Dampak Positif
dan Negatif Perkembangan Teknologi Informasi.
1.
Dampak positif
a.
Penerapan
teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia bisnis dimanfaatkan untuk
perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai
E-Commerce yaitu sebuah perdagangan
menggunakan jaringan komunikasi internet.
b. Dalam dunia perbankan teknologi
informasi dan komunikasi yaitu diterapkannya transaksi perbankan lewat internet
(Internet Banking) antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindahbukuan,
pembayaran tagihan, dan informasi rekening.
c. Penerapan Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Pendidikan
Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Kemampuan dan karakteristik internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Kemampuan dan karakteristik internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
Ø Informasi
yang dibutuhkan untuk menjadi lebih cepat dan lebih mudah dalam mengakses
tujuan pendidikan
|
Ø Inovasi
dalam pembelajaran tumbuh di hadapan e-learning inovasi yang lebih memudahkan
proses pendidikan.
|
Ø Kemajuan
TIK juga akan memungkinkan pengembangan teleconference kelas virtual atau
kelas yang berbasis yang tidak memerlukan pendidik dan peserta didik berada
dalam satu ruangan.
|
Ø Sistem
administrasi pada lembaga pendidikan akan lebih mudah dan lancar karena
penerapan sistem TIK.
|
Ø Peningkatan
kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi.
|
Ø Sistem
administrasi pada lembaga pendidikan akan lebih mudah dan lancar karena
penerapan sistem TIK.
|
Ø Munculnya
media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber pengetahuan dan
pendidikan pusat.
|
Ø Sistem
pembelajaran tidak harus melalui tatap muka. Dengan kemajuan teknologi proses
pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dan guru, tetapi juga dapat
menggunakan layanan pos, internet dan lain-lain.
|
2.
Dampak Negatif
a. Penipuan
Penipuan dengan memanfaatkan TIK makin banyak
ditemukan. Internet pun tidak luput dari serangan para penipu.
b.Carding
Carding merupakan aktivitas pembelian
barang di Internet menggunakan kartu kredit bajakan. Cara belanja menggunakan
kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia Internet
karena bersifat real-time (langsung).
c. Pornografi
Tidak sedikit orang yang mengakses
situs-situs forno dari internet, dan mirisnya bukan hanya orang dewasa yang
mengaksesnya, bahkan sudah menjalar ke anak-anak di bawah umur.
d. Perjudian
Dampak negatif lain adalah meluasnya perjudian. Dengan
luasnya jaringan yang tersedia, para penjudi tidak pernah perlu pergi ke tempat
khusus untuk berjudi.
e.Tayangan berupa kekejaman dan
kesadisan.
f. Ketagihan
anak terhadap game online.
Pemecahan Masalah dan Solusi dalam mengatasi dampak negatif TIK
Agar
penggunaan TIK lebih optimal dan di jalankan dengan baik dan benar, berikut ada
beberapa metode pemecahan masalah agar dampak negatif dari TIK dapat
tertanggulangi.
a.
Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah
umur yang masih harus dalam pengawasan ketika sedang melakukan pembelajaran
dengan TIK. Analisis untung ruginya pemakaian.
b. Tidak menjadikan TIK
sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran, misalnya kita tidak
hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak
hanya berkunjung ke digital library, namun juga masih berkunjung ke
perpustakaan.
c. Pihak-pihak
pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika
dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan
etika.
d. Perlu ada kesadaran
peran dan kerjasama antara seluruh pengguna lanyanan TIK.
e. Menggunakan software yang dirancang
khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau
parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang
berbau seks dan kekerasan.
f. letakkan komputer di ruang publik
rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak.
Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua
dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan
games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila
komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun
akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
g. Untuk mencegah kecanduan orang tua
perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Sehingga
pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur
waktu dengan baik.
h. Pemerintah sebagai
pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan menyaring apa-apa
saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat Indonesia di
dunia maya. Selebihnya, Kementrian juga bisa menyebarkan filter berupa program
software untuk menekan dampak buruk teknologi informasi. Kedua, perlu adanya
dukungan dari orangtua, tokoh budaya hingga kalangan agamawan, untuk
mensosialisasikan tentang saran, manfaat dan sisi positif facebook.
Jadi, solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan
tidak pada teknologi (say no to technology) karena jika kita berbuat demikian,
maka kita akan ketinggalan banyak informasi yang sekarang ini
informasi-informasi tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus
mempertimbangkan kebutuhan kita terhadap teknologi, mempertimbangkan
baik-buruknya teknologi tersebut dan tetap menggunakan etika, juga tidak lupa jangan
terlalu berlebihan agar kita tidak kecanduan denagn teknologi.
BABIII
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pemaparan makalah diatas, maka
dapat kami simpulkan bahwa:
- Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya pada sekolah dasar sangatlah penting, agar siswa dapat menyalurkan bakat serta minatnya pada jenjang berikutnya.
- Pembelajaran TIK dapat terlaksana dengan maksimal dengan adanya dukungan baik dari guru, orang tua siswa serta peran serta komite sekolah.
B. Saran
- Bagi sekolah-sekolah yang belum dapat melaksanakan pembelajaran TIK secara maksimal diharapkan ke depan dapat berupaya lebih giat lagi dengan cara meningkatkan kerjasama khususnya dengan komite sekolah.i
- Bagi sekolah yang telah melaksanakan pembelajaran TIK agar dapat memenuhi tuntutan dunia pendidikan pada saat ini dengan berpedoman pada ketentuan yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA
(jacky & didi, 2011)
jacky, c., & didi, n. (2011). Dampak Dari
Pembelajaran TIK. Teknologi Informasi Komunikasi, 150.
safitri, j., & james, d. (2008). Pembelajaran TIK
Sekolah Dasar. In kramer, Pembelajaran TIK (p. 101). Jakarta: Gramedia.
jacky, c., & didi, n. (2011). Dampak Dari
Pembelajaran TIK. Teknologi Informasi Komunikasi, 150.
safitri, j., & james, d. (2008). Pembelajaran
TIK Sekolah Dasar. In kramer, Pembelajaran TIK (p. 101). Jakarta:
Gramedia.
(safitri & james, 2008)
👍👍👍
BalasHapusDitunggu postingan selanjutnya👌🏻
BalasHapusTerimakasih. 👍👍👍👍
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTrimakasih infonya sgt membantu
BalasHapus👍👍
BalasHapuskeren kak ,jadi lebih mudah ya ..
BalasHapusMakasih infonya 😊
BalasHapusbermanfaat sekali..siippp
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusterimakasih infonya, sangat bermanfaat.
BalasHapusterimakasih kak infonya, mau dicoba
BalasHapusBermanfaat sekali iii👍
BalasHapusTerimakasih info yach.... Sangat membantu
BalasHapusTerimakasih info yach.... Sangat membantu
BalasHapusTerimakasih info yach.... Sangat membantu
BalasHapusSangat membantu 😊
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusini lebih praktis aku sudah coba kak ,,, dan emang sangat keren
BalasHapuskereeeennnn...
BalasHapusHatur nuhuun teh Jihan 👍
BalasHapus👍👍👍👍
BalasHapusmakasih, sangat bermanfaat :)
BalasHapusSangat membantu sekali. Trims teh jihan
BalasHapusSangat membantu sekali. Trims teh jihan
BalasHapus